Berobat di kuala lumpur - Pasti sering dengar kan soal TBC? Atau yang namanya Tuberkulosis. Penyakit ini sering banget jadi obrolan kalau ada yang batuk batuknya lama. Nah, TBC ini sebenarnya penyakit yang disebabkan sama bakteri, namanya Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini sukanya nyerang paru paru, tapi jangan salah, dia juga bisa nyerang organ tubuh yang lain lho.
TBC ini bukan penyakit remeh, dia itu masalah kesehatan yang lumayan gede di seluruh dunia. Soalnya, penularannya cepet banget, dan kalau nggak ditanganin serius, bisa bahaya banget. Makanya, penting banget nih kita tahu jenis jenis TBC itu apa aja, biar kita bisa ngerti cara nanganinnya yang bener.
TBC Paru dan TBC Ekstra Paru, Beda Lokasi Beda Cerita
Secara garis besar, TBC itu dibagi jadi dua jenis utama. TBC Paru sama TBC Ekstra Paru.
TBC Paru itu jenis yang paling sering kita temui, dan ini yang paling gampang nular. Bakteri ini nyerang langsung ke jaringan paru paru kita. Gejala gejalanya yang sering muncul itu ya batuk yang udah lebih dari tiga minggu nggak sembuh sembuh, kadang sampai batuk berdarah, nyeri di dada, terus demam, berat badan turun nggak jelas, sama keringet dingin di malam hari. Ini yang bikin penyakit ini gampang banget nular, soalnya bakteri keluar lewat percikan dahak atau ludah pas penderita batuk atau bersin. Jadi kalau ada yang batuk TBC Paru di dekat kita, kita bisa ketularan.
Nah, beda lagi sama TBC Ekstra Paru. Ini terjadi kalau infeksinya nyebar ke organ tubuh lain selain paru paru. Bisa ke tulang, terus kelenjar getah bening, otak (yang disebut meningitis TB), ginjal, sampai tulang belakang (yang namanya Pott's disease). Gejalanya TBC Ekstra Paru ini beda beda banget, tergantung di mana infeksinya. Misalnya, kalau TBC tulang, bisa jadi nyeri atau bengkak di sendi. Kalau TBC kelenjar, biasanya muncul benjolan di leher yang nggak sakit.
TBC Ekstra Paru ini jarang banget nular ke orang lain dibandingkan TBC Paru. Soalnya, bakteri nggak keluar ke udara bebas. Tapi, jenis ini seringnya lebih susah didiagnosis. Kenapa? Karena gejala gejalanya nggak khas, sering mirip sama penyakit lain. Jadi, kadang bikin bingung dokter juga.
TBC Aktif dan TBC Laten
Selain beda lokasi infeksi, TBC juga dibagi jadi dua bentuk lagi berdasarkan aktivitas penyakitnya. TBC Aktif sama TBC Laten.
TBC Aktif itu kondisi di mana bakteri TBC di dalam tubuh kita lagi berkembang biak dengan pesat. Makanya, dia menimbulkan gejala gejala yang jelas. Ini adalah jenis TBC yang bisa nularin penyakit ke orang lain, dan harus segera diobati secara intensif. Kalau pasien TBC aktif ini nggak diobati cepat, bisa jadi kondisi badannya makin parah, sampai bisa menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian. Serem banget kan?
Beda cerita sama TBC Laten. Kalau yang ini, seseorang udah terinfeksi bakteri TBC, tapi bakterinya itu lagi tidur atau nggak aktif di dalam tubuh. Jadi, dia nggak menimbulkan gejala sama sekali. Orang yang kena TBC laten ini nggak akan menularkan penyakit ke orang lain. Tapi, hati hati ya, infeksi ini bisa jadi aktif kapan aja, apalagi kalau daya tahan tubuh kita lagi drop. Makanya, penting banget nih buat deteksi dan pantau terus TBC laten, biar nggak sampai berkembang jadi TBC aktif.
TBC laten ini biasanya ketahuan pas lagi ada tes skrining. Kayak tes tuberkulin (yang sering disebut Mantoux) atau IGRA (Interferon Gamma Release Assays). Tes tes ini biasanya dilakukan buat orang orang yang berisiko tinggi kena TBC, misalnya yang sering kontak sama pasien TBC aktif atau yang punya HIV.
Ketika TBC Jadi Lebih Sulit, TBC Resisten Obat
Ada juga jenis TBC yang lebih sulit lagi penanganannya, namanya TBC Resisten Obat. Ini terjadi kalau bakteri TBC udah kebal sama obat obatan TBC yang biasa. Artinya, obat standar yang biasa dipakai buat TBC nggak mempan lagi. Kondisi ini bisa terjadi kalau pasien nggak minum obat secara teratur, nggak sesuai dosis, atau berhenti minum obat sebelum waktunya. Makanya, penting banget disiplin minum obat kalau udah divonis TBC.
Kalau udah kena TBC resisten obat, penanganannya memang harus lebih serius dan butuh penanganan khusus. Biasanya, penanganan TBC resisten obat ini enaknya dilakukan di fasilitas kesehatan yang udah punya pengalaman dan keahlian khusus.
Kayak di beberapa rumah sakit di Penang, Malaysia. Di sana, pasien bisa langsung konsultasi sama dokter spesialis toraks yang memang udah ahli di bidangnya. Contohnya, ada Prof. Dato Dr. Basheer Ahamed atau Prof. Dato Dr. Abu Yamin. Mereka ini udah dikenal punya pengalaman banyak banget dalam nangani kasus kasus TBC yang kompleks, bahkan yang resisten obat sekalipun, dan penyakit paru lainnya.
Baca juga Bahaya TBC Jika Tidak Diobati Kenali Risikonya Sejak Dini
Tuberkulosis ini memang penyakit yang serius. Tapi, kalau kita bisa deteksi dini dan langsung diobati dengan benar, peluang untuk sembuh itu besar banget. Jadi, mengenal jenis jenis TBC itu penting banget. Mulai dari TBC Paru, TBC Ekstra Paru, terus ada TBC Laten, TBC Aktif, sampai TBC Resisten Obat. Semua ini penting kita tahu biar kita bisa paham gejala gejalanya dan langkah pengobatannya secara lebih menyeluruh.
Kalau kamu atau orang terdekat kamu ada yang ngalamin gejala yang mirip TBC, atau malah udah divonis TBC tapi ngerasa pengobatannya belum maksimal, jangan ragu buat konsultasi ke fasilitas medis terbaik. Kayak yang ada di Penang, Malaysia itu. Nah, buat mempermudah proses pendaftaran, atur jadwal konsultasi, sampai pendampingan selama pengobatan, kamu bisa coba pakai platform Expediheal. Expediheal ini bisa bantu atur janji temu sama dokter ahli kayak Prof. Dato Dr. Basheer Ahamed atau Prof. Dato Dr. Abu Yamin. Jadi, kamu bisa dapat penanganan medis yang cepat dan pastinya terpercaya.