Spesialis Jantung di Melaka - Gagal jantung atau heart failure itu bukan cuma satu masalah saja. Itu lho, kondisi serius saat jantung kita nggak bisa memompa darah dengan baik buat kebutuhan tubuh. Tapi, perlu kamu tahu, ternyata gagal jantung itu punya dua wajah yang berbeda, dilihat dari yang namanya fraksi ejeksi atau ejection fraction (EF).
Apa itu EF? Gampangnya, EF itu persentase darah yang berhasil dipompa keluar dari bilik kiri jantung setiap kali jantung berdetak. Angka ini yang jadi kunci buat membedakan dua jenis gagal jantung. Kalo kamu ngerti bedanya, nanti bisa lebih pas penanganannya.
Gagal Jantung dengan EF Rendah (HFrEF) (Jantung Lemah Tak Bertenaga)
Jenis ini yang paling sering kita dengar. Dikenal juga sebagai HFrEF. Kenapa dibilang EF rendah? Karena ventrikel kiri ruang di jantung yang tugasnya memompa darah ke seluruh tubuh nggak bisa kontraksi dengan maksimal. Bayangin aja, otot jantungnya kayak lagi capek banget, jadi cuma sedikit darah yang bisa dipompa keluar. Angka EF nya biasanya di bawah 40%. Ini sering terjadi karena ada kerusakan otot jantung, misalnya habis kena serangan jantung atau punya penyakit lain seperti kardiomiopati.
Orang yang kena HFrEF biasanya gampang capek, sering sesak napas, kakinya suka bengkak, dan detak jantungnya nggak beraturan. Semua itu terjadi karena jantungnya nggak punya cukup kekuatan buat ngirim darah dan oksigen ke seluruh badan.
Buat tahu kamu kena HFrEF atau enggak, dokter bakal pakai alat yang namanya ekokardiografi. Dari situ, dokter bisa lihat EF kamu dan gimana fungsi ventrikel kiri. Ditambah lagi, dokter juga bakal lihat riwayat kesehatan kamu dan mungkin minta tes darah atau rekam jantung.
Gagal Jantung dengan EF Tinggi (HFpEF) (Jantung Kaku Sulit Mengembang)
Nah, ini kebalikannya. Namanya HFpEF. Di kondisi ini, jantung sebenarnya masih bisa memompa darah dengan normal. EF nya di atas 50%, jadi terlihat normal dari sisi pompaannya. Masalahnya bukan di situ, tapi di dinding jantungnya yang jadi kaku. Jadi, saat jantung mau menerima darah kembali, dia nggak bisa mengembang dengan baik. Akhirnya, ada penumpukan cairan di dalam jantung, dan ini yang memunculkan gejala gagal jantung.
Gejala yang dirasakan mirip mirip sama HFrEF. sesak napas saat beraktivitas, capek, dan bengkak di bagian tubuh tertentu. Tapi, HFpEF ini seringnya dialami sama orang yang sudah lanjut usia, apalagi kalau mereka punya penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau obesitas. Karena pompa jantungnya masih kuat, kadang HFpEF lebih sulit didiagnosis.
Untuk mendiagnosis HFpEF, dokter juga pakai ekokardiografi, tapi fokusnya beda. Dokter akan lebih melihat seberapa tebal dinding jantung kamu, gimana fungsi relaksasinya, dan tekanan di dalam bilik jantung. Selain itu, dokter juga akan perhatikan faktor faktor lain yang bisa bikin kondisi kamu makin parah, kayak tekanan darah tinggi.
Jadi, Mana yang Lebih Serius?
Dua duanya sama sama serius. Mau HFrEF atau HFpEF, keduanya bisa bikin kamu sering bolak balik rumah sakit, bikin kualitas hidup menurun, bahkan mengancam nyawa. Yang penting, pengobatannya beda. Karena mekanismenya nggak sama, cara mengatasinya pun harus disesuaikan.
Baca juga Apa Itu Gagal Jantung? Penyebab dan Pengobatannya
Untuk HFrEF, pengobatannya biasanya fokus buat bikin jantung bisa berkontraksi lebih baik dan mengurangi beban kerjanya. Sementara untuk HFpEF, pengobatannya lebih ke mengendalikan faktor lain yang jadi penyebabnya, seperti tekanan darah, gula darah, dan berat badan.
Tapi ada kabar baiknya kok. Banyak pasien gagal jantung bisa hidup lebih baik dan lebih lama asal mereka dapat penanganan yang tepat. Makanya penting banget buat kamu rutin periksa jantung, apalagi kalau kamu punya riwayat penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes. Dengan tahu jenis gagal jantung yang kamu alami, penanganan jadi jauh lebih efektif.